PANGKALPINANG, orca-broadnews.comΒ β Tingginya harga timah dunia yang kini mendekati Rp950.000 hingga Rp1.000.000 per kilogram kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana manfaat komoditas strategis tersebut dirasakan masyarakat Bangka Belitung.
Di tengah melonjaknya harga timah di pasar internasional, masyarakat penambang di daerah penghasil justru masih menerima harga jual timah pada kisaran Rp260.000 hingga Rp300.000 per kilogram. Kondisi ini dinilai menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara nilai komoditas di pasar global dan pendapatan yang diterima masyarakat di tingkat bawah.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepulauan Bangka Belitung, Ridwan, S.PKP, menilai harga yang diterima penambang rakyat saat ini masih belum mencerminkan tingginya harga timah dunia.
Menurutnya, sejumlah kalangan di Bangka Belitung berpendapat harga yang lebih layak bagi penambang rakyat seharusnya berada pada kisaran Rp350.000 hingga Rp450.000 per kilogram Sn, bahkan dapat lebih tinggi untuk kualitas tertentu.
“Ketika harga timah dunia mendekati satu juta rupiah per kilogram, tentu masyarakat berharap ada peningkatan kesejahteraan yang lebih nyata bagi para penambang rakyat yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai produksi timah,” ujar Ridwan.
Secara realistis, lanjutnya, harga Rp250.000 hingga Rp300.000 per kilogram masih tergolong rendah. Sementara kisaran Rp350.000 hingga Rp450.000 per kilogram dinilai lebih adil bagi penambang rakyat dengan tetap mempertimbangkan biaya pengolahan, peleburan, logistik, royalti, dan keuntungan perusahaan.
Bahkan, harga Rp450.000 hingga Rp500.000 per kilogram dianggap lebih mencerminkan kondisi pasar global saat ini. Adapun harga di atas Rp500.000 per kilogram perlu dikaji lebih lanjut berdasarkan struktur biaya industri secara menyeluruh.
Ridwan menegaskan bahwa kenaikan harga timah tidak hanya berdampak terhadap penambang, tetapi juga memiliki efek domino terhadap sektor lain, termasuk perikanan dan kehidupan nelayan.
Menurutnya, peningkatan pendapatan penambang akan memperbesar perputaran uang di daerah. Daya beli masyarakat meningkat, sehingga pelaku UMKM, pedagang ikan, pasar tradisional, hingga usaha jasa di desa-desa tambang turut merasakan manfaatnya.
Selain itu, konsumsi hasil perikanan juga berpotensi meningkat seiring membaiknya kondisi ekonomi masyarakat.
“Kondisi ekonomi yang lebih baik biasanya mendorong peningkatan konsumsi ikan dan hasil laut lainnya. Ini tentu dapat memberikan dampak positif bagi nelayan,” katanya.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas ekonomi juga berpotensi menambah penerimaan daerah yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk membangun infrastruktur perikanan seperti pelabuhan, cold storage, hingga fasilitas penunjang kawasan pesisir.
Ancaman bagi Wilayah Tangkap Nelayan
Meski demikian, Ridwan mengingatkan adanya sejumlah dampak negatif yang perlu diantisipasi apabila peningkatan aktivitas pertambangan tidak dikelola secara bijak.
Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah peralihan tenaga kerja dari sektor perikanan ke sektor pertambangan akibat perbedaan pendapatan yang cukup signifikan.
Selain itu, aktivitas pertambangan laut yang tidak terkendali berpotensi menyebabkan sedimentasi dan kekeruhan perairan yang dapat mengganggu habitat ikan, rajungan, cumi-cumi, maupun udang yang menjadi sumber penghidupan nelayan.
“Kekhawatiran terbesar nelayan bukan semata soal aktivitas tambangnya, tetapi bagaimana memastikan wilayah tangkap tetap terjaga dan sumber daya laut tidak mengalami penurunan akibat kerusakan lingkungan,” tegasnya.
Ridwan juga mengingatkan bahwa meningkatnya peredaran uang di kawasan tambang sering kali diikuti kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup masyarakat.
Dorong Keseimbangan Kepentingan
Karena itu, HNSI Bangka Belitung mendorong kebijakan yang mampu menghadirkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat penambang dan keberlanjutan sektor perikanan.
“HNSI Bangka Belitung mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat penambang melalui penyesuaian harga beli timah yang lebih berkeadilan seiring tingginya harga timah dunia. Namun demikian, peningkatan aktivitas pertambangan harus tetap memperhatikan kelestarian wilayah tangkap nelayan dan keberlanjutan sumber daya pesisir agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berimbang oleh seluruh masyarakat Bangka Belitung,” ujar Ridwan.
Menurutnya, timah dan perikanan merupakan dua sektor penting yang menopang perekonomian Bangka Belitung. Oleh karena itu, keduanya harus dikelola secara beriringan agar tidak saling mengorbankan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.






